| Semangat Bertasawuf Dalam Pelatihan |
|
|
| Selasa, 31 Maret 2009 11:21 |
|
Apa Kabar Hari ini…? Alhamdulillah... Dahsyat! Luarbiasa! Yes…Yes…Yes…!!! Semarak yel-yel diatas diteriakkan para peserta pelatihan dengan penuh semangat. Yel-yel itu diiringi gerakan ala petinju memukulkan hook kanannya ketika meneriakkan 'Dahsyat!' dan hook kiri ketika meneriakkan 'Luarbiasa!' Diakhiri dengan mengarahkan kepalan kedua tangan di depan dada sambil meneriakkan ‘Yes…Yes…Yes…!!!’.
Sunggingan senyum lebar menghiasi bibir-bibir peserta. Membangkitkan hormon-hormon kortisol yang mengendap di dalam tubuh setelah semalaman tidur, sehingga semangat belajar jadi meningkat. Dua hari itu, 21-22 Maret 2009, Radix Training Center kembali menggelar Kursus Tasawuf Tingkat Dasar dalam format Pelatihan Membentuk Qalbu Ihsani. Pelatihan yang ke-24 kalinya diselenggarakan di Jakarta ini diikuti duapuluh enam peserta dari berbagai wilayah DKI Jakarta, Bekasi dan Majalengka. Latar belakang pendidikan peserta juga beragam, dimulai dari lulusan Sekolah Menengah Atas, Mahasiswa, S1 hingga S2. Trainer-trainer RADIX memandu peserta untuk memahami tasawuf dari hal-hal yang sangat mendasar. Ust. Wahfiudin, sang senior trainer mengawali pelatihan dengan mengajak peserta untuk memahami konsep diri. Sebuah konsep dasar tentang diri manusia yang terdiri dari dua entitas, Ruhani dan Jismani. Merujuk pada Al Qur’an Surat Al Insan ayat 1, Ust. Wahfiudin memperkenalkan konsep hakikat diri manusia adalah yang ruhaniah. Ruhaniah yang telah Allah SWT ciptakan dalam dimensi alam ke-Tuhanan. Dimensi alam Ilahiah, yang disebut Alam Lahut. Ruhaniah ini diciptakan sejak sebelum adanya waktu. Baru kemudian setelah Jismani manusia dalam bentuk Basyar sempurna kejadiannya di dalam rahim ibu, Ruhaniah yang dari Alam Lahut ‘ditiupkan’ oleh Allah menyatu dengan Jismani (Basyar). Tentu saja setelah melalui proses kehidupan di alam-alam antara Alam Lahut dan Alam Rahim. Lebih lanjut Ust Wahfiudin menjelaskan, hakikat diri manusia adalah yang ruhaniah. Sedangkan inti (lubb) Ruhaniah adalah Qalbu. Hal ini ditegaskan dalam Al Qur’an Surat Al Imron ayat 190: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat ayat-ayat (tanda-tanda) bagi mereka yang memiliki INTI (ULIL ALBAB). ALBAB adalah jamak dari LUBB. Dalam literatur bahasa arab, LUBB adalah nama lain dari QALBU". Ada dua kategori Qalbu dalam diri manusia.
Rupanya, istilah qalbu mirip dengan heart dalam bahasa Inggris, sama-sama memilki makna ganda. Heart dapat bermakna jantung (heart attack, serangan jantung) dapat juga bermakna hatinurani (you’re always in my heart, kamu selalu hadir di hatinuraniku). Maka apabila mendengar perbincangan tentang qalbu perhatikanlah konteksnya. Kalau yang berbicara adalah dokter medis, tentu qalbu yang diucapkannya lebih bermakna jantung. Tapi bila dikaitkan dengan perbincangan tentang moral, iman atau spiritualitas, maka maknanya lebih mengarah pada hatinurani yang wujudnya ruhaniah. "Qalbu orang yang berdosa akan menghitam.Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Namun bukan berarti karena dosa tak kan nampak bekas-bekas fisiknya lalu kita akan seenaknya saja berbuat dosa. Na`ûdzubillâh min dzâlik...,” Ungkap Ust. Wahfiudin menutup sesinya. Sebagai bekal mengamalkan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari, para peserta diajarkan dzikir dengan metode khusus Thariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) PP Suryalaya oleh Ust. Wahfiudin untuk mengawal qalbu agar selalu tersambung kepada Allah SWT. Dua trainer lainnya, Ust. Abdul Latif dan Ust. Handri Ramadian memberikan bekal kepada peserta dengan materi Bid’ah, Memahami Pardigma Bertasawuf, Tripod Penopang Islam, Dzikir dan Metodenya, Perkembangan Tasawuf dan Tokohnya sejak jaman Rasulullah saw hingga masa sekarang serta Perbedaan Mystic dan Magic. Berikut kesan-kesan peserta setelah mengikuti pelatihan ini:
|











